[Siaran Pers] Penggambaran Pekerjaan dan Profesi dalam Sinetron
Publikasi Penelitian Remotivi Tentang Empat Sinetron Indonesia
Dalam upaya merasionalisasi kritik dan keluhan masyarakat terhadap sinetron
Indonesia, Remotivi mencoba membuat sebuah penelitian yang kajian
utamanya menyasar pada aspek “profesi” dan atau “pekerjaan” yang
direpresentasikan di dalam cerita-cerita sinetron. Dengan mengambil
sampel empat buah judul sinetron, yakni Cinta Salsabilla, Putih Abu-abu (keduanya ditayangkan di SCTV), Karunia, dan Yusra dan Yumna (keduanya di RCTI), kajian ini didasarkan pada pengamatan periode 11-18 Maret 2012. Dengan tingkat konsumsi masyarakat yang tinggi terhadap sinetron,
penelitian kami bertujuan untuk melacak sejauh mana pola pikir yang
dikembangkan oleh kebanyakan narasi sinetron hari ini. Kerja ini
ditempuh untuk melihat paradigma apa yang berada di dalam logika cerita
sinetron, sehingga dari sana sedikit banyak kita bisa membaca konstruksi persepsi macam apa yang berkembang dalam masyarakat penikmat sinetron.
Temuan kami memperlihatkan beberapa hal:
1. Sebuah pekerjaan atau profesi kerap ditampilkan dengan tidak rinci,
tidak jelas. Kita tak pernah mengetahui dengan persis apa yang
dikerjakan seseorang, bagaimana seseorang bekerja, atau di tempat macam
apa ia bekerja. Identifikasi sebuah pekerjaan atau profesi kemudian
hanya ditandai lewat atribut (seragam atau properti), bukan kemampuan
(ketrampilan dan kecakapan kerja).
2. Pada sisi lain, pekerjaan atau profesi seseorang kerap dicerabut
dari konteks sosiologisnya. Tak pernah ada latarbelakang sosiologis
suatu pekerjaan, misalnya, sehingga karenanya suatu pekerjaan kehilangan kompleksitasnya. “Pekerjaan atau profesi di dalam sinetron seakan-akan
jatuh dari langit, seakan-akan tak ada asal-usulnya,” ujar Muhamad
Heychael peneliti Rermotivi.
3. Lain cerita, ditemukan banyak sekali tokoh-tokoh di dalam cerita
yang mudah beralih profesi tanpa melalui serangkaian proses terlebih
dahulu. Tak pernah diperlihatkan adanya adaptasi, pembelajaran, atau
aktivitas lainnya sehingga seseorang bisa tiba-tiba menjalankan suatu
pekerjaan atau profesi. Misalnya, seorang guru ekskul yang mendadak
beralih menjadi manajer artis, seorang pemuda miskin yang seketika
menjalankan pekerjaan sebagai manajer suatu perusahaan, atau seorang
pekerja rumah tangga (PRT) yang merangkap pekerjaan sebagai sekretaris
di suatu perusahaan. Bukan peralihan pekerjaan itu yang menjadi masalah, tapi “bagaimana” itu bisa terjadi tidak pernah terjelaskan oleh cerita
sinetron. Pun oleh akal sehat.
4. Problem pada ketiga poin di atas, kemudian “dijelaskan” sinetron
melalui “logika takdir”. Artinya, yang memungkinkan seseorang menjadi
dari “sesuatu” menjadi “sesuatu” adalah takdir yang digariskan, yakni
adanya hubungan darah dengan seseorang tertentu. Misalnya, guru ekskul
yang menjadi manajer ternyata adalah anak kandung dari seorang kaya, dan sebagainya.
5. Pengamatan kami yang lain mencatat bahwa ada empat (4) jenis profesi yang paling sering muncul di keempat judul sinetron yang kami amati:
PRT, satpam, dokter, dan sipir penjara.
6. Secara garis besar, PRT dan satpam bisa dianggap sebagai
pekerjaan/profesi yang masuk dalam kategori domestik. Dalam
pengkategorian ini, kami menemukan bahwa penggambaran atas pekerjaan
domestik ini berada dalam posisi yang sub-ordinat, lemah, dan tak
berdaya. Meski tingginya frekuensi kemunculan PRT dan satpam, tapi
keberadaan mereka tidak mempunyai pengaruh dalam cerita. Tugas mereka
dalam cerita adalah sebatas penanda status sosial seseorang. Dan dalam
konteks pekerjaannya, posisi mereka lebih digambarkan sebagai sebuah
pengabdian, bukan pekerjaan, di mana tiada pembicaraan mengenai hak dan
kewajiban pekerjaan seseorang.
7. Pada profesi non-domestik, yakni dokter dan sipir penjara, posisi
mereka mempunyai signifikansi pada narasi cerita sinetron. Dokter dengan penampilannya yang dingin dan berjarak, bisa saja mengubah arah cerita
melalui vonisnya. Begitupun pada sipir penjara, “pengetahuan”-nya
tentang masa lalu seseorang yang pernah berada di penjara, bisa menguak
sebuah misteri atau rahasia yang selama ini tak diketahui, sehingga
karenanya arah cerita bisa berubah. Meski demikian, keberadaan dokter
dan sipir penjara tidak tampil dengan segala gugus kerjanya yang
kompleks. Meski tanpa keutuhan penggambaran pekerjaan, “kesaksian” atau
“vonis” mereka tidaklah pernah dipertanyakan kebenarannya. Karena lewat
jenis profesinya sendiri, ditambah atribut kostum dan properti,
rasionalitas dianggap seperti sudah melekat pada mereka. Jenis pekerjaan mereka menjadi atribut dari rasionalitas yang tidak diposisikan sebagai pekerjaan, tapi sebuah kekuasaan yang bisa mendikte.
Remotivi menilai, fakta-fakta tadi berpotensi memberi pemahaman yang
keliru tentang sebuah pekerjaan, memberikan sebuah pemaknaan yang
dangkal akan sebuah kehidupan manusia, di mana pekerjaan pada dasarnya
mempunyai impikasi sosial yang penting. Namun yang terpenting pada
temuan ini adalah adanya ketidakadilan representasi profesi/pekerjaan
yang dikotomikan dalam ranah domestik dan non-domestik, yang berpotensi
menyuburkan berbagai ketidakadilan bagi PRT atau kaum buruh umumnya di
dunia nyata karena pengendapan konstruksi persepsi yang dibangun lewat
narasi sinetron. Hal yang sama pun berlaku pada superioritas
pekerjaan-pekerjaan non-domestik semacam dokter dan sipir penjara yang
berpotensi memerangkap persepsi masyarakat pada ketidakberdayaannya
sebagai awam di hadapan para “profesional”. Dengan hanya menyaksikan keempat sinetron tersebut, Remotivi tidak
menganggap bahwa hasil penelitian ini bisa mewakili keseluruhan sinetron di Indonesia, tetapi sekadar ingin menunjukkan sebuah kecenderungan
yang ada dalam sinetron Indonesia. Sebelumnya, hasil penelitian ini
sudah diterbitkan di
www.remotivi.or.id dalam rupa dua tulisan berseri. Kedua tulisan itu bertajuk “Takdir di Atas Kerja”dan “Sinetron, Rasionalitas, dan Pengabdian”.
Melalui penelitian ini Remotivi berharap agar para pekerja media,
khususnya pembuat cerita sinetron, bisa mendapatkan evaluasi dan kritik
yang konstruktif bagi kerja mereka ke depan. Televisi yang salah satu
tugasnya adalah juga untuk sarana pendidikan, harus pula memberikan
sesuatu yang bermutu dan tidak menyimpang, meski itu hanya di dalam
sebuah karya fiksi seperti sinetron. Karena melalui televisilah, salah
satunya, masyarakat mendapatkan referensi untuk mengetahui hal-hal dalam kehidupannya. Remotivi melalui kerja-kerjanya akan selalu berusaha
menyumbangkan sesuatu demi wajah pertelevisian kita yang lebih baik.